Kamis, 02 Juli 2009

Lamun

Padang lamun merupakan tumbuhan berbunga dan berbiji yang telah beradaptasi penuh terhadap perairan laut. Tumbuhan tersebut terdapat di perairan dekat pantai yang dangkal, baik di daerah tropis maupun di daerah temperate. Jumlah jenis tumbuhan lamun yang ditemukan di seluruh dunia sebanyak 50 spesies, 12 spesies diantaranya terdapat di Indonesia.
Nilai pakai langsung ekosistem padang lamun di Indonesia masih sangat terbatas pada perannya sebagai habitat utama dan sumber pakan bagi berbagai ikan besar, crustacea, moluska, reptil laut dan mamalia. Sebagai contoh, Hutomo dan Martosewejo (1977) menemukan 78 spesies ikan dari padang lamun di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, dan Atmadja (1977) melaporkan keberadaan moluska seperti Pinna, Lambis, Strombus dan Cerithium, timun laut seperti Synapta dan Holothuia, dan bintang laut di padang lamun secara umum. Algae epifit juga melimpah dalam ekosistem padang lamun (Atmadja dan Sulistijo, 1978). Selanjutnya, Hutomo dan Martosewejo (1977) mengelompokkan ikan-ikan yang berasosiasi dengan padang lamun di Kepulauan Seribu kedalam 4 kelompok ekologi, yaitu : (1) yang tinggal menetap, (2) yang tinggal menetap tetapi memijah pada habitat di sekitarnya, (3) pengunjung pada saat-saat tertentu, dan (4) spesies yang menetap saat masih juvenil. Kategori yang terakhir mencakup beberapa spesies seperti Siganus, Molloides dan Upeneus yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di Indonesia. Beberapa spesies yang menetap termasuk moluska juga penting sebagai bahan makanan.
Tumbuhan lamun sejauh ini belum memiliki nilai ekonomis atau komersial di Indonesia, namun dilaporkan telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat pesisir sebagai sumber makanan dan sumber serat (Polunin, 1983). Enhalus acroides sebagai contoh, merupakan penyedia biji yang dikonsumsi masyarakat di Kepulauan Seribu (Nontji, 1987) dan menghasilkan serat yang digunakan di beberapa wilayah pesisir Irian Jaya (Feulleteu de Bruyn, 1920).
Nilai pakai tidak langsung dari ekosistem padang lamun mencakup :
(1) fungsinya sebagai stabilisator sedimen yang mencegah erosi pesisir,
(2) habitat sejumlah besar spesies satwa liar, dan
(3) sumber makanan dan detritus organik yang dibutuhkan tumbuhan laut dan algae sebagaimana binatang.
Struktur kepadatan daun dan sistem perakarannya membuat padang lamun memiliki kemampuan untuk meredam gelombang dan arus sehingga menjebak sedimen dan melindungi erosi (Randall, 1965). Kemampuan tumbuhan lamun untuk mengikat sedimen dangkal tergantung pada spesiesnya. Spesies pionir yang tumbuh cepat adalah Halodule univervis, H. pinifolia dan kemudian Halophila ovalis. Pada kondisi yang sesuai, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Enhalus acroides dan Thalasia hempricii dapat menjadi stabilisator sedimen yang bernilai (den Hartog, 1970). Tumbuhan lamun dapat mengurangi arus dekat dasar sampai 50 % sehingga mampu menahan bahan terlarut dalam kolom air (Zhuang and Chappell, 1990). Proses kolonisasi tumbuhan lamun menyukai dasar halus seperti debu, lumpur dan bahan organik. Hamparan lamun cenderung memiliki lapisan pasir berlumpur yang ditutupi kuarsa pasir cangkang tak berstruktur. Penumpukan sedimen oleh tumbuhan lamun juga dapat mendukung perkembangan karang di tempat yang terlalu keruh untuk pertumbuhannya. Fungsi hubungan padang lamun dengan ekosistem sekitarnya seperti terumbu karang dan hutan mangove harus dipertimbangkan, selain fungsi ekosistemnya sendiri dan nilai pakainya dalam setiap penilaian ekonominya.
Produktifitas primer kotor padang lamun menduduki rangking teratas di antara ekosistem alami yang pernah tercatat (Hatcher et al, 1989). Produktifitas primer ekosistem padang lamun dilaporkan antara 1.300 – 3.000 gram berat kering/m2/tahun (KLH, 1991), bahkan dapat mencapai 7.000 gramC/m2/tahun (Whitten et al, 1987). Karbon organik yang dihasilkan padang lamun melalui fotosistesis sebagian besar (70 – 90 %) digunakan oleh organisme laut pada tingkat trofik yang lebih tinggi melalui rantai makanan detritus dan sisanya melalui rantai langsung (Nienhuis, 1993). Ekosistem padang lamun umunya bersifat mandiri (self-sustaining), energi yang dihasilkan dari padang lamun di Indonesia Timur dikonsumsi sendiri dengan minimum 10 % dikirim ke ekosistem di sekitarnya pada kondisi yang tenang (Hutomo et al, 1988; Nienhuis et al, 1989; Lindeboom dan Sandee, 1989). Dugong, penyu hijau dan ikan Siganus merupakan pemangsa tumbuhan lamun dan rumput laut yang penting. Padang lamun dan habitat di sekitarnya merupakan daerah pakan yang juga penting bagi burung-burung laut (Polunin, 1983).
Nilai pakai langsung ekosistem padang lamun adalah nilai pilihan yang menunjukkan nilai pelestarian fungsi ekosistemnya dan pemakaiannya di masa mendatang, seperti penggunaan tumbuhan lamun untuk produk farmasi baru dan kultivar pertanian. Kenyataannya, di beberapa bagian dunia tumbuhan lamun digunakan sebagai sumber pupuk hijau, bahan kimia dan bahan pakan (Mc Roy and Helffrich, 1980). Sejauh ini belum ada usaha yang dilakukan di Indonesia, mungkin juga di seluruh dunia, untuk mengkuantifikasi dalam bentuk uang (membuat penilaian ekonomi) dari fungsi dan pemakaian sumberdaya padang lamun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar